Bank Indonesia Sebut Rupiah Akan Kembali Menguat Pada Juli 2026!
Gubernur BI Perry Warjiyo yakin rupiah menguat bertahap mulai Juli 2026 didorong faktor musiman dan
Waktu jam tidur yang kurang disetiap malam bisa menyebabkan kerusakan fungsi pada otak seseorang. Saat tidur diwaktu yang tepat, seseorang akan melewati empat tahapan tidur yang menjadi proses pebaikan ataupun juga recovery pada tubuh. Untuk itu seseorang yang selalu kekurangan jam tidurnya bisa berbahaya bagi dirinya jika dilakukan terus menerus.
Dikutip dari laman Health Harvard, dalam sebuah studi yang dilakukan ditemukan adanya hubungan antara kebiasaan tidur yang salah yang bisa mempengaruhi kerusakan otak. Kurangnya waktu tidur dalam dua fase, tidur nyenyak dan REM diduga bisa mempercepat penurunan fungsi bagian otak yang berkaitan dengan penyakit Alzheimer.
Ahli saraf preventif di Amerika Serikat, Richard Issacson mengatakan bahwa pengalaman klinisnya dalam merawat orang dewasa yang berisko terkena Alzheimer adalah untuk mendukung penelitian tersebut.
"Kami juga menemukan metrik tidur pada tidur yang lebih nyenyak, memprediksi fungsi kognitif, jadi antara itu ditambah volume otak, amat nyata," kata Issacson.
Selama tidur nyenyak, otak membersihkan racun dan sel-sel mati, sekaligus memperbaiki dan memulihkan tubuh untuk keesokan hari. Saat seseorang bermimpi selama tidur REM, otak sibuk memproses emosi, mengkonsolidasikan ingatan dan menyerap informasi baru.
Dengan demikian, masuk akal bahwa mendapatkan tidur nyenyak dan tidur REM yang berkualitas bisa menjaga fungsi tubuh dan otak tetap optimal. Orang dewasa membutuhkan sekitar tujuh hingga delapan jam tidur agar tetap sehat, sementara remaja dan anak-anak yang lebih muda membutuhkan waktu tidur yang lebih lama.
Para ahli mengatakan, sebagian besar orang dewasa harus menghabiskan antara 20 persen dan 25 persen waktu tidur dalam tidur nyenyak, hal ini juga berlaku untuk tidur REM. Orang dewasa yang lebih tua membutuhkan lebih sedikit, sementara bayi membutuhkan lebih banyak. Bayi bisa menghabiskan 50 persen tidur mereka dalam REM.
Tidur nyenyak cenderung dirasakan setelah seseorang tertidur, sementara tidur REM muncul di kemudian hari, menjelang pagi. Jadi, jika tidur dilakukan larut malam dan bangun pagi, seseorang akan mengurangi peluang untuk menghabiskan cukup waktu di salah satu atau kedua tahapan tersebut.
Berikut ini adalah empat tahapan yang terjadi saat tidur:
Tahap 1: Seseorang berada di antara keadaan terjaga dan tertidur. Tidur pada tahap ini ringan dan mudah terganggu
Tahap 2: Detak jantung dan pernapasan melambat. Seseorang dalam tahap ini mulai tidak menyadari lingkungan sekitar.
Tahap 3: SWS (Slow Wave Sleep) atau tidur nyenyak merupakan fase saat tidur ketika pernapasan dan detak jantung melambat. Tekanan darah menurun dan otot-otot rileks. Selama fase ini, jaringan akan beregenerasi dan tubuh melepaskan hormon-hormon penting.
Tahap 4: REM (Rapid eye movement) adalah fase terakhir dan terdalam dari tidur, disebut juga tidur bermimpi. Ketika memasuki fase ini, pernapasan menjadi lebih cepat, tidak teratur dan dangkal. Mata juga akan bergerak ke segala arah dengan cepat, aktivitas dan detak jantung meningkat, tekanan darah naik, dan ereksi pada pria.