KPPPA Gandeng LPSK Untuk Kawal Korban Kasus Wanita yang Disekap Pacaranya Selama 3 Tahun
Kolaborasi bersama ini adalah sebagai bentuk upaya yang dilakukan untuk memastikan korban mendapatka
Indonesia menempati peringkat kelima di dunia untuk jumlah penderita diabetes terbanyak. Permasalahan yang terjadi, penyakit ini tak hanya menyerang orang dewasa namun kini banyak juga didapati pada usia kelompok produktif atau generasi muda. Situasi ini menjadi salah satu tantangan kesehatan paling mendesak di Tanah Air.
Melansir pada laporan Kementerian Kesehatan RI mengungkap tren mengkhawatirkan: penderita diabetes tipe 2 di Indonesia kini tidak lagi didominasi kelompok usia lanjut. Generasi muda usia 20–40 tahun mulai menyumbang angka signifikan dalam data nasional.
Indonesia menempati peringkat kelima negara dengan jumlah penderita diabetes tertinggi di dunia, dengan estimasi lebih dari 19 juta kasus pada orang dewasa menurut data International Diabetes Federation (IDF). Yang mengkhawatirkan, tren ini bergeser ke usia yang semakin muda.
Pola hidup sebagai pemicu utama
Para ahli endokrinologi dari Perhimpunan Endokrinologi Indonesia (PERKENI) menunjuk perubahan gaya hidup sebagai biang keladi. Konsumsi minuman manis kemasan yang melonjak, kebiasaan makan larut malam, hingga minimnya aktivitas fisik di kalangan pekerja kantoran muda menjadi kombinasi mematikan. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) menunjukkan proporsi masyarakat yang kurang bergerak terus bertambah dari tahun ke tahun.
Gejala yang kerap diabaikan
Dokter spesialis penyakit dalam menekankan bahwa diabetes tipe 2 bisa bertahun-tahun tidak menunjukkan gejala mencolok. Rasa sering haus, mudah lelah, dan luka yang lambat sembuh sering dianggap sebagai dampak kesibukan biasa. Akibatnya, banyak pasien baru terdiagnosis saat komplikasi sudah terjadi, seperti gangguan ginjal atau saraf.
Skrining dini sebagai solusi
Kemenkes RI menganjurkan skrining gula darah secara berkala bagi siapa pun berusia di atas 40 tahun, atau lebih muda jika memiliki faktor risiko seperti riwayat keluarga, obesitas, atau hipertensi. Program Posbindu PTM (Pos Pembinaan Terpadu Penyakit Tidak Menular) yang tersebar di seluruh wilayah bisa menjadi titik awal yang mudah diakses tanpa biaya.
Perubahan pola makan dengan mengurangi indeks glikemik dan rajin berolahraga dengan minimal 150 menit per minggu terbukti secara klinis mampu menekan risiko secara signifikan risiko terkena penyakit tersebut.