Kartini Media
Ilustrasi. Foto: Pinterest.

Seblak Naik Kelas: Dari Jajanan Pinggir Jalan ke Identitas Kuliner Anak Muda

 

Kerupuk basah berkuah pedas yang dulunya hanya dijajakan di gerobak sekolah kini menjadi simbol selera generasi muda. Seblak, kuliner khas Sunda yang melekat dengan Bandung telah menyebar ke berbagai kota dan hadir dalam format baru, mulai dari seblak kering, seblak instan, hingga kafe khusus seblak dengan beragam topping.

Seblak dibuat dari kerupuk mentah yang direndam lalu dimasak dengan bumbu kencur, bawang, dan cabai. Rasa pedas, gurih, dan aroma kencur menjadi ciri khasnya. Pembeli bebas menambahkan topping seperti sosis, bakso, ceker, telur, makaroni, dan sayuran. Fleksibilitas ini yang membuat seblak terasa personal, seolah setiap orang bisa meracik versinya.

Dikutip dari liputan6.com peneliti budaya pangan menilai popularitas seblak tidak lepas dari peran media sosial dan budaya nongkrong. Ulasan, tantangan makan pedas, dan konten mukbang membuat seblak mudah viral. Level kepedasan yang dapat dipilih juga menjadi ajang uji nyali yang disukai remaja. Di sisi lain, harga yang terjangkau menjadikannya makanan akrab bagi pelajar dan mahasiswa.

Fenomena ini sekaligus menjadi peluang ekonomi. Banyak pelaku usaha mikro dan kecil menjadikan seblak sebagai bisnis awal dengan modal terbatas. Inovasi kemasan beku dan instan memperluas jangkauan pasar hingga ke luar Jawa. Namun, tantangan tetap ada, mulai dari standardisasi rasa, kebersihan bahan, hingga perizinan usaha [verifikasi data dengan Dinas Koperasi dan UKM atau asosiasi pelaku usaha].

Dari sisi kesehatan, ahli gizi mengingatkan bahwa seblak tinggi natrium, minyak, dan cabai sehingga sebaiknya tidak dikonsumsi berlebihan, terutama bagi penderita maag atau refluks. Menambah protein dan sayuran serta memilih level pedas yang wajar dapat mengurangi dampaknya.

Bagi generasi muda, seblak bukan sekadar makanan. Ia menjadi penanda identitas kedaerahan yang dikemas dengan gaya masa kini. Dengan cara itu, kuliner tradisional tetap hidup, bahkan menemukan penggemar baru yang mungkin tak mengenal asal-usulnya, kecuali lewat semangkuk kuah merah yang pedas.

 

Artikel Terkait