Kartini Media
Kue Talam Foto: Pinterest.

Menelusuri Jejak Kue Talam, Camilan Betawi yang Dipercaya Berusia Ratusan Tahun

 

Di antara jajanan pasar yang masih bertahan, kue talam menempati tempat istimewa dalam tradisi Betawi. Kudapan berlapis putih dan hijau ini hadir di hajatan, pengajian, hingga lapak pasar tradisional. Sejumlah catatan kuliner menyebutkan camilan ini telah dikenal sejak abad ke-16, meski penelusuran sejarah pastinya masih terbatas dan kerap bertumpu pada tradisi lisan.

Dikutip dari detik.com nama "talam" merujuk pada wadah atau nampan tempat kue ini biasa dikukus dan disajikan. Kue talam terbuat dari tepung beras, tepung sagu atau hunkwe, santan, dan gula. Lapisan bawah berwarna cokelat atau hijau berasa manis, sedangkan lapisan atas berwarna putih bertekstur gurih dari santan dan garam. Perpaduan manis-gurih inilah yang menjadi ciri khasnya.

Jakarta pada masa lalu, yang dulu dikenal sebagai Batavia, merupakan pelabuhan perdagangan yang menerima pengaruh berbagai budaya. Kuliner Betawi terbentuk dari percampuran unsur Melayu, Tionghoa, Arab, India, dan Eropa.

Para pengamat kuliner menilai kue-kue berbahan tepung beras dan santan memang akrab di kawasan Nusantara, sehingga kue talam bisa dipandang sebagai bagian dari tradisi kue basah yang luas, dengan interpretasi lokal Betawi.

Kue talam biasanya dibuat dengan cara dikukus dalam dua tahap. Adonan lapisan bawah dikukus sebentar hingga setengah matang, kemudian adonan santan dituang di atasnya dan dikukus hingga matang. Pemilihan takaran yang tepat menentukan tekstur kenyal dan lembut. Aroma pandan sering ditambahkan untuk memberi wangi khas.

Kini, kue talam hadir dengan varian, dari talam ubi, talam pandan, hingga talam keju. Meski begitu, versi tradisional tetap dicari karena rasa yang sederhana namun tak lekang zaman.

Pegiat budaya Betawi menilai pelestarian kue tradisional penting agar generasi muda mengenal warisan kuliner ini. Upaya yang bisa dilakukan antara lain mengenalkannya lewat festival kuliner, mendukung pedagang kue tradisional, serta mendokumentasikan resep dan sejarahnya dengan lebih sistematis.

 

Artikel Terkait