Kartini Media
Ilustrasi. Foto: Pinterest

Punya Rasa yang Khas dan Tampilan Estetik Membuat Masyarakat Tergiur dengan Makanan Korea

Industri kuliner Indonesia pada 2026 diwarnai gelombang tren baru yang didorong kuatnya pengaruh media sosial. Gelombang budaya Korea yang semakin masif turut mendongkrak popularitas Korean food di Tanah Air, mulai dari Korean BBQ yang disantap dengan berbagai side dish seperti kimchi, hingga jajanan jalanan seperti tteokbokki dan corndog berisi keju leleh yang banyak dijajakan di kafe maupun gerai kaki lima.

Melansir dari bisnis.com selain kuliner Korea, minuman berbahan matcha juga terus digemari, terutama di kalangan anak muda yang menganggapnya sebagai alternatif kafein yang lebih menyehatkan dibanding kopi hitam.

Warna hijaunya yang khas membuat matcha kerap dijadikan konten estetik di media sosial, mulai dari matcha latte, es krim, hingga dessert seperti tiramisu dan croffle.

Fenomena menarik lainnya adalah transformasi seblak, jajanan tradisional yang kini hadir dalam versi premium dengan topping seafood, wagyu, hingga keju mozzarella. Meski harganya lebih tinggi, penyajian yang lebih modern dan higienis membuat seblak premium tetap diminati tanpa kehilangan identitas rasa pedas khasnya.

Di sisi lain, kesadaran masyarakat terhadap pola makan sehat turut mendorong tren dessert box rendah gula serta makanan berbasis nabati yang kini tidak sekadar meniru rasa daging, melainkan mengembangkan karakter rasa khas Nusantara.

Tren kuliner fusion Nusantara pun kian populer, di mana masakan tradisional Indonesia dipadukan dengan teknik atau presentasi internasional, seperti rendang dalam bentuk isian kroisan atau sate dengan bumbu gochujang khas Korea.

Para pelaku usaha kuliner menilai visual, rasa, dan nilai yang diusung sebuah hidangan menjadi tiga syarat utama agar mampu bertahan di era digital saat ini. Meski tren datang silih berganti dengan cepat, kualitas rasa dan konsistensi produk tetap menjadi faktor penentu keberhasilan sebuah usaha kuliner dalam jangka panjang, di tengah persaingan pasar yang semakin ketat dan dinamis.

 

Artikel Terkait