Maudy Ayunda Umumkan Kehamilan Anak Pertama, Bagikan Foto USG dan Baby Bump
Maudy pamerkan foto baby bump dan hasil ultrasonografi (USG) calon buah hatinya.
Istilah kerja secukupnya mencuat di media sosial, terutama di kalangan pekerja muda. Konsepnya sejalan dengan quiet quitting, yakni bekerja sesuai deskripsi tugas dan jam yang disepakati, tanpa mengerjakan hal ekstra di luar tanggung jawab. Pertanyaannya, apakah tren ini baik bagi dunia kerja? Simak penjelasannya berikut ini!
Pendukung tren ini berargumen bahwa batas yang sehat mencegah kelelahan dan menjaga kesehatan mental. Mereka menilai bekerja berlebihan tanpa kompensasi atau apresiasi yang layak tidak berkelanjutan. Pendekatan ini juga dipandang sebagai respons terhadap budaya sibuk atau hustle culture yang menormalkan lembur.
Berdasrkan laporan survei Gallup di Amerika Serikat pada 2022 menemukan bahwa setidaknya separuh pekerja disana tergolong tidak terlibat secara aktif dalam pekerjaannya, istilah yang sering disamakan dengan quiet quitting. Temuan itu dipakai untuk menunjukkan masalah keterlibatan karyawan, bukan semata soal kemalasan.
Sementara itu, sebagian praktisi sumber daya manusia mengingatkan sisi lain. Bila dilakukan terlalu ekstrem, sikap hanya memenuhi minimal dapat menurunkan kolaborasi, kualitas hasil, dan peluang pengembangan karier.
Tim yang anggotanya sama-sama bekerja sebatas kewajiban bisa kehilangan inisiatif dan inovasi. Karier bisa melambat karena atasan cenderung mempromosikan mereka yang menunjukkan kontribusi lebih.
Pandangan yang lebih seimbang menyebut bahwa kuncinya terletak pada penyebab. Bila kerja secukupnya lahir dari batas sehat, yaitu bekerja efektif dalam jam kerja lalu beristirahat, hal itu positif. Namun, bila muncul akibat kekecewaan, kurang apresiasi, atau beban tidak adil, itu sinyal masalah pada budaya organisasi yang perlu dibenahi.
Bagi pekerja, disarankan membedakan antara menjaga batas dan menarik diri. Komunikasikan ekspektasi dengan atasan, ajukan negosiasi gaji atau beban kerja, dan tetap kembangkan keterampilan. Bagi perusahaan, evaluasi beban kerja, kejelasan jenjang karier, dan penghargaan yang adil sangat menentukan.
Dengan demikian, kerja secukupnya tidak serta-merta baik atau buruk. Dampaknya bergantung pada motivasi, konteks pekerjaan, dan bagaimana pekerja serta perusahaan menanggapinya.