Agnez Mo Bawakan Indonesia Raya di Mandalika, Seremoni MotoGP 2026 Berlangsung Khidmat
Agnez tampil anggun mengenakan gaun putih dengan potongan bahu terbuka dan ekor panjang yang menjunt
Stroke tidak lagi identik dengan usia lanjut. Para dokter saraf menyoroti peningkatan kasus stroke pada kelompok dewasa muda, yang kerap tidak menyadari dirinya berisiko. Stroke merupakan salah satu penyebab utama kematian dan kecacatan di Indonesia, sehingga deteksi dini dan perubahan gaya hidup menjadi kunci.
Dikutip dari Kumparan.com stroke terjadi ketika aliran darah ke otak terganggu, baik karena sumbatan (stroke iskemik) maupun pecahnya pembuluh darah (stroke hemoragik). Pada orang usia remaja, faktor risiko yang sama dengan orang tua tetap berperan, yaitu hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi, obesitas, dan merokok. Gaya hidup sedentari, pola makan tinggi garam dan lemak jenuh, kurang tidur, serta stres kronis memperbesar risikonya.
Selain itu, ada penyebab yang lebih khas pada usia muda, seperti kelainan jantung bawaan, gangguan pembekuan darah, robekan dinding pembuluh darah di leher, penggunaan pil KB pada perempuan yang merokok, dan penyalahgunaan zat terlarang. Karena itu, pemeriksaan penyebab pada pasien muda biasanya lebih mendalam.
Gejala yang perlu dikenali dapat diingat melalui kampanye "SeGeRa ke RS" senyum tidak simetris, gerak separuh anggota tubuh melemah, bicara pelo atau sulit dipahami, kebas atau kesemutan separuh tubuh, rabun atau gangguan penglihatan mendadak, dan sakit kepala hebat yang muncul tiba-tiba.
Penanganan cepat dan tepat sangat menentukan terhadap penyemnbuhan penyakit stroke ringan. Pada stroke iskemik, terapi pelarut bekuan umumnya efektif bila diberikan dalam hitungan jam pertama setelah gejala.
Upaya pencegahan meliputi memeriksa tekanan darah, gula darah, dan kolesterol secara berkala, berhenti merokok, mengurangi garam dan makanan olahan, rutin berolahraga minimal 150 menit per minggu, serta mengelola stres dan cukup tidur.
Dokter mengimbau masyarakat tidak menunda ke fasilitas kesehatan ketika gejala muncul di usia yang relatif muda. Menunggu gejala hilang sendiri dapat membuat jaringan otak rusak permanen.