Kartini Media
Ilustrasi. Foto: Pinterest

Peringati Hari Hepatitis Sedunia, Indonesia Masih Berjuang Turunkan Kasus Hepatitis B dan C

Hari Hepatitis Sedunia yang diperingati setiap 28 Juli kembali menjadi momentum global untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap bahaya penyakit yang menyerang organ hati ini. Tahun ini peringatan Hepatitis sedunia mengusung tema global "Hepatitis: Let's Break It Down" atau "Hepatitis: Mari Kita Atasi", yang menekankan pentingnya membongkar hambatan akses layanan kesehatan bagi penderita.

Dikutip dari Disway.id berdasarkan data yang dihimpun menunjukkan Indonesia masih menempati posisi keempat dunia dengan jumlah kasus hepatitis B terbanyak, berada di bawah Tiongkok, India, dan Nigeria. Di tingkat Asia Tenggara, prevalensi hepatitis B Indonesia berada di peringkat keempat dengan angka sekitar 8,4 per 100.000 penduduk, dengan bahaya laten yang mengintai terutama kelompok dewasa di atas 40 tahun berupa risiko sirosis dan kanker hati.

Sementara itu, Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia (PPHI) berkolaborasi dengan Kementerian Kesehatan RI menggelar peringatan World Hepatitis Day 2026 yang dipusatkan di Yogyakarta pada 25-26 Juli lalu. Dalam kesempatan itu, PPHI dan Kemenkes turut meluncurkan dua buku konsensus nasional baru sebagai panduan medis terkini untuk penatalaksanaan hepatitis B dan hepatitis C pada pasien penyakit ginjal kronik.

Hepatitis B dan C kerap tidak menimbulkan gejala klinis yang jelas pada tahap awal, sehingga penderita baru menyadari kondisinya setelah organ hati mengalami kerusakan berat. Kondisi ini menjadikan deteksi dini sebagai kunci utama pencegahan komplikasi jangka panjang.

Direktur Penyakit Menular Kemenkes RI menekankan fokus kebijakan pada pemutusan rantai penularan dari ibu ke anak melalui layanan Puskesmas, mengingat infeksi hepatitis B pada bayi berisiko berkembang kronis pada sekitar 95 persen kasus, jauh lebih tinggi dibanding infeksi pada usia dewasa. Masyarakat diimbau melengkapi imunisasi hepatitis B dan rutin melakukan pemeriksaan kesehatan.

Pemerintah menargetkan Indonesia bebas hepatitis sebagai ancaman kesehatan masyarakat pada 2030, sebuah target yang dinilai ambisius namun bukan mustahil apabila didukung kolaborasi erat antara pemerintah, tenaga kesehatan, akademisi, dan masyarakat luas.

Artikel Terkait