Kartini Media
Ilustrasi. Foto: Pinterest

Fakta Kandungan Gizi di Balik Makanan Tradisional Indonesia

Ketika tren makanan sehat identik dengan avocado toast dan smoothie bowl, sejumlah ahli gizi mengingatkan bahwa warisan kuliner tradisional Indonesia sebenarnya menyimpan kekayaan nutrisi yang tak kalah istimewa—dan jauh lebih terjangkau.

Dari pecel di Madiun hingga gado-gado Jakarta, makanan berbasis sayuran dengan bumbu kacang ini mengandung kombinasi serat, protein, dan lemak baik yang sesungguhnya memenuhi banyak prinsip diet seimbang modern. Persoalannya, nilai gizi makanan-makanan ini jarang dikomunikasikan dengan cara yang relevan bagi konsumen masa kini.

Salah satu ahli pangan dari IPB menekankan bahwa rempah-rempah yang menjadi fondasi masakan Indonesia seperti kunyit, jahe, temulawak, kencur bukan hanya sekadar penambah rasa. Kandungan kurkumin dalam kunyit memiliki sifat antiinflamasi yang didukung ratusan studi ilmiah.

Jahe mengandung gingerol yang membantu pencernaan dan meredakan mual. Kekayaan ini tersedia murah di setiap pasar tradisional, namun belum cukup dipromosikan sebagai bagian dari strategi kesehatan masyarakat.

BPOM dan Dinas Kesehatan kota-kota besar secara rutin menemukan penggunaan bahan pengawet berbahaya, pewarna tekstil, dan boraks pada sejumlah produk jajanan tradisional. Edukasi pedagang kaki lima tentang keamanan pangan menjadi agenda yang tidak bisa ditunda.

Gerakan revitalisasi kuliner tradisional yang dipimpin chef-chef muda Indonesia di berbagai kota membuka babak baru. Mereka memodifikasi resep warisan dengan mempertahankan nilai gizi sekaligus meningkatkan presentasi agar relevan dengan konsumen urban.

Dukungan kebijakan berupa sertifikasi higienitas yang terjangkau bagi pedagang kecil akan menjadi kunci agar makanan tradisional bisa bersaing secara adil dengan produk pangan modern.

Artikel Terkait