Kartini Media
Nana Mirdad. (Foto: Pinterest)

Nana Mirdad Soroti Lambannya Penanganan Karhutla di Kalimantan, Desak Kepedulian terhadap Warga Terdampak

 

Aktris Nana Mirdad menyampaikan kritik terhadap penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan yang dinilainya berjalan lamban. Melalui unggahan di media sosial Threads, Senin (12/10), Nana mengungkapkan kesedihan sekaligus kemarahannya melihat dampak kebakaran yang berlangsung selama berbulan-bulan dan memengaruhi kehidupan masyarakat.

Dalam unggahannya, Nana mempertanyakan lambannya respons terhadap bencana yang telah menghanguskan ratusan ribu hektare lahan di Borneo selama sekitar empat bulan terakhir. Ia menilai penanganan yang lebih berarti seharusnya segera dilakukan mengingat besarnya dampak kebakaran terhadap lingkungan dan warga.

Nana juga menyinggung dampak kabut asap yang dapat mengganggu jarak pandang dan membahayakan keselamatan. Ia mengungkapkan keprihatinan setelah menyoroti laporan mengenai anak-anak di negara tetangga yang meninggal akibat gangguan jarak pandang. Pernyataan tersebut menjadi bagian dari kritiknya terhadap respons penanganan bencana yang dianggap tidak sebanding dengan tingkat kedaruratan situasi.

Unggahan Nana kemudian mendapat perhatian warganet. Sejumlah pengguna media sosial menyampaikan keluhan mengenai kabut asap yang masuk ke rumah, mengganggu aktivitas sehari-hari, dan menimbulkan ketidaknyamanan. Ada pula yang mempertanyakan keseriusan pihak berwenang dalam menangani kebakaran.

Respons tersebut memperlihatkan bahwa karhutla bukan hanya persoalan lahan yang terbakar. Bencana ini juga berkaitan dengan kesehatan masyarakat, kualitas udara, keselamatan transportasi, serta keberlangsungan aktivitas ekonomi di wilayah terdampak.

Kritik dari figur publik dapat membantu memperluas perhatian masyarakat terhadap persoalan lingkungan. Namun, perhatian publik perlu diikuti informasi yang jelas mengenai kondisi lapangan, langkah pemadaman, upaya perlindungan warga, dan perkembangan pemulihan lingkungan.

Penanganan karhutla membutuhkan koordinasi antarlembaga, dukungan personel dan peralatan, serta langkah pencegahan agar kebakaran tidak terus berulang. Ketika asap menyebar ke permukiman, perlindungan kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan masyarakat dengan gangguan pernapasan juga perlu menjadi perhatian.

Meski unggahan Nana menyoroti kekecewaan terhadap penanganan bencana, persoalan utama yang perlu dijawab adalah bagaimana respons di lapangan dapat berjalan efektif dan terukur. Masyarakat membutuhkan tindakan nyata, komunikasi terbuka, dan perlindungan yang memadai selama bencana berlangsung.

Kemarahan publik dapat menjadi pengingat bahwa penanganan karhutla tidak cukup berhenti pada pemadaman api. Pencegahan, penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran, dan pemulihan kawasan terdampak juga diperlukan untuk mengurangi risiko bencana serupa pada masa mendatang.

 

Artikel Terkait