Tak Sekadar Fashion Show, IFW 2026 Bawa Misi Besar Lewat Tema "Ulos Simetria"
Gelaran pekan mode terbesar di Indonesia ini akan berlangsung pada 29 Juli hingga 2 Agustus 2026 di
Kasus kolesterol tinggi di Indonesia tidak lagi identik dengan kelompok usia lanjut. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan prevalensi kolesterol tinggi di Indonesia mencapai angka yang cukup signifikan, dan kini mulai menyerang kalangan usia produktif akibat perubahan gaya hidup modern yang minim aktivitas fisik serta pola makan tinggi lemak jenuh.
Dikutip dari detik.com salah satu dokter spesialis penyakit dalam menjelaskan bahwa kolesterol sejatinya dibutuhkan tubuh untuk pembentukan sel dan hormon, namun kadar kolesterol jahat atau LDL yang berlebihan dapat memicu penumpukan plak di pembuluh dara. Kondisi ini tentu meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke.
Sementara itu, Menurut Kementerian Kesehatan, kadar LDL ideal berada di bawah 100 mg/dL, sementara kadar HDL atau kolesterol baik idealnya di atas 60 mg/dL.
Kabar baiknya, kolesterol tinggi dapat dikendalikan tanpa harus selalu bergantung pada obat, asalkan dilakukan perubahan gaya hidup secara konsisten. Dua langkah utama yang disarankan adalah menjaga pola makan dan rutin berolahraga. Publik dianjurkan mengganti sumber lemak jenuh dengan lemak sehat seperti minyak zaitun atau minyak canola, serta memperbanyak konsumsi ikan berlemak seperti salmon dan makarel yang kaya asam lemak omega-3.
Aktivitas fisik memegang peran penting dalam meningkatkan kadar HDL yang bertugas membawa kelebihan kolesterol keluar dari pembuluh darah. Berjalan kaki cepat selama 30 menit sehari, lima kali dalam sepekan, sudah memenuhi anjuran aktivitas fisik minimal 150 menit per minggu. Alternatif olahraga lain seperti bersepeda, berenang, atau jogging juga dinilai efektif selama dilakukan secara rutin dan konsisten.
Selain pola makan dan olahraga, masyarakat juga diimbau membatasi konsumsi makanan yang digoreng dengan minyak berulang, memperbanyak asupan serat dari sayur dan buah, serta melakukan pemeriksaan kadar kolesterol secara berkala, khususnya mulai usia 20-an tahun.
Deteksi penyakit lebih dini dinilai penting mengingat kolesterol tinggi kerap tidak menimbulkan gejala spesifik hingga kondisinya sudah cukup parah.