Kartini Media
Ilustrasi. Foto: Pinterest.

Dulu Dianggap Hama, Tutut Kini Jadi Kuliner Bergizi yang Sedang Naik Daun

Tutut atau keong sawah, hewan bercangkang yang selama ini kerap dianggap hama oleh para petani karena merusak tanaman padi muda, justru tengah menjadi perbincangan hangat di dunia kuliner belakangan ini. Olahan tutut, khususnya yang berbumbu kuning khas Sunda menjadi ramai kembali dibicarakan di media sosial karena memiliki cita rasanya yang khas sekaligus kandungan gizinya yang tak main-main.

Menurut laporan CNN Indonesia keong sawah yang secara ilmiah dikenal dengan nama Pila ampullacea ini kaya akan kandungan protein, vitamin A, B, dan C, kalsium, fosfor, zat besi, hingga kalium. Kombinasi nutrisi tersebut menjadikan tutut sebagai sumber protein hewani alternatif yang murah namun bergizi tinggi, cocok untuk mendukung kebutuhan protein harian masyarakat, khususnya di kalangan menengah ke bawah.

Kandungan kalsium dan protein pada tutut disebut penting untuk mendukung pembentukan tulang dan gigi, terutama pada anak-anak dalam masa pertumbuhan. Selain itu, meski mengandung lemak, jenis lemak dalam tutut tergolong lemak tak jenuh yang justru membantu menurunkan kadar kolesterol jahat dan menjaga kestabilan gula darah dalam tubuh.

Tutut umumnya diolah menjadi hidangan berkuah dengan bumbu kuning gurih atau pedas, dan disantap dengan cara unik yakni disedot langsung dari cangkangnya. Di Jawa Barat, khususnya di kawasan Bandung dan sekitarnya, kuliner ini masih menjadi favorit lintas generasi meski pedagangnya kini semakin sulit ditemukan akibat keterbatasan bahan baku segar.

Meski kaya manfaat, sejumlah sumber kesehatan mengingatkan agar konsumsi tutut tetap memperhatikan proses pembersihan yang benar, mengingat keong sawah yang diambil langsung dari persawahan berisiko mengandung residu pestisida atau menjadi inang parasit tertentu apabila tidak diolah dengan baik. Proses perendaman dan pencucian berulang menjadi langkah wajib sebelum tutut dimasak agar aman dikonsumsi.

Dengan popularitasnya yang kembali meningkat, tutut kini tak hanya menjadi simbol nostalgia kuliner pedesaan, tetapi juga berpotensi menjadi alternatif pangan berkelanjutan yang terjangkau bagi masyarakat luas.

 

Artikel Terkait