Agnez Mo Bawakan Indonesia Raya di Mandalika, Seremoni MotoGP 2026 Berlangsung Khidmat
Agnez tampil anggun mengenakan gaun putih dengan potongan bahu terbuka dan ekor panjang yang menjunt
Generasi Z, mereka yang lahir sekitar akhir 1990-an hingga awal 2010-an dikenal sebagai penggerak tren mode melalui media sosial. Gaya yang muncul sering berubah cepat, tetapi sejumlah arah terlihat konsisten, mulai dari nuansa retro, kenyamanan, hingga kepedulian lingkungan.
Salah satu yang menonjol adalah gaya longgar dan berlapis. Celana jeans baggy, kemeja oversized, dan hoodie dipadukan dengan atasan berbeda tekstur. Gaya ini mengedepankan kenyamanan sekaligus memberi ruang bereksperimen tanpa terlihat berlebihan. Di sisi lain, nuansa nostalgia 2000-an atau Y2K tetap diminati, seperti kaus mini, kacamata kecil, dan aksesori warna cerah.
Tren gorpcore, yakni pakaian luar ruangan fungsional seperti jaket windbreaker dan sepatu trekking yang dipakai sehari-hari, juga berkembang. Sementara gaya yang bernuansa feminin lembut, seperti pita, rok bergaya balet, dan flat shoes, kembali populer di kalangan perempuan muda.
Thrifting atau berbelanja pakaian bekas menjadi bagian gaya hidup. Selain terjangkau, pakaian bekas memungkinkan tampilan unik dan dianggap lebih ramah lingkungan dibanding fast fashion. Banyak anak muda memadukan potongan vintage dengan pakaian baru sehingga tampil personal.
Media sosial seperti TikTok dan Instagram berperan besar menyebarkan tren, lewat video outfit of the day dan rekomendasi kreator. Peneliti perilaku konsumen mengingatkan bahwa derasnya tren dapat memicu konsumsi impulsif. Anak muda dianjurkan memilih pakaian yang sesuai kepribadian dan anggaran, bukan sekadar mengikuti viral.
Estetika Gen Z cenderung menekankan ekspresi diri yang cenderung bisa mempengaruhi orang lain. Tren datang dan pergi, tetapi kemampuan memadupadankan pakaian dengan percaya diri menjadi inti dari gaya tersebut.