Ketua Komisi X DPR RI Minta Kasus Temuan Senjata Tidak Ganggu Aktivitas Belajar Siswa
Pernyataan tersebut disampaikan menyusul penemuan sejumlah senjata api dan barang lainnya dalam peng
Istilah "skin barrier" belakangan semakin sering muncul di dunia perawatan kulit Tanah Air terutama setelah banyak dermatolog mengingatkan bahaya penggunaan produk skincare secara berlebihan atau overtreatment. Skin barrier, atau lapisan pelindung terluar kulit, berfungsi menahan air agar tidak menguap serta melindungi kulit dari polusi, bakteri, dan sinar UV.
Menurut sejumlah dokter kulit, penggunaan produk eksfoliasi berlebihan, kombinasi bahan aktif yang tidak tepat seperti retinol dan AHA/BHA secara bersamaan, hingga kebiasaan mencuci wajah terlalu sering menjadi penyebab umum rusaknya lapisan pelindung kulit ini.
Kelompok usia remaja hingga dewasa yang aktif mengikuti tren skincare routine multi-step justru menjadi kelompok paling rentan, karena dorongan ingin hasil instan membuat mereka menggunakan terlalu banyak produk sekaligus.
Tanda-tanda kerusakan pada skin barrier dapat dilihat seperti munculnya warna kulit kemerahan, terasa perih saat memakai produk yang sebelumnya aman, tekstur kulit kasar, hingga jerawat yang tak kunjung sembuh biasanya muncul setelah pemakaian produk aktif dalam jangka waktu tertentu tanpa jeda.
Skin barrier yang rusak dapat memicu masalah kulit yang lebih serius seperti dermatitis, eksim, hingga penuaan dini karena kulit kehilangan kemampuan alaminya untuk regenerasi.
Para ahli merekomendasikan pendekatan "skin minimalism", yakni menyederhanakan rutinitas skincare dengan hanya menggunakan pembersih lembut, pelembap, dan tabir surya.
Bahan seperti ceramide, niacinamide, dan centella asiatica disebut efektif membantu memperbaiki lapisan pelindung kulit yang rusak. Selain itu, menghindari air panas saat mencuci wajah dan mengurangi frekuensi eksfoliasi menjadi langkah sederhana namun signifikan.
Dokter kulit juga mengingatkan bahwa proses pemulihan skin barrier membutuhkan waktu, umumnya antara dua hingga empat minggu, sehingga masyarakat diimbau untuk tidak terburu-buru mengganti produk skincare hanya karena belum melihat hasil instan.