Kartini Media
Ilustrasi. Foto: Pinterest

Imbas Rupiah Melemah, Pakar Sebut Kebutuhan Pokok Ini Akan Alami Kenaikan Harga

 

Rupiah yang terus semakin melemah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) kini hanya senilai Rp17.500 per dollar AS. Melemahnya rupiah tentu akan membuat efek domino di masyarakat, salah satunya yakni kenaikan harga bahan pokok yang sudah diprediksikan oleh para pakar ekonomi.

Dikutip dari Kompas.com Pakar Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin, Makassar, Prof. Hamid Paddu, mengungkapkan efek pelemahan rupiah  ini memiliki dampak langsung terhadap harga bahan baku impor, termasuk sektor energi seperti bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi.

Lebih lanjut, Hamid menjelaskan, sebagai negara yang masih berstatus net importir minyak sejak 2004, dengan kebutuhan BBM nasional mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari, sementara produksi dalam negeri hanya sekitar 650 ribu barel per hari. Artinya, lebih dari separuh kebutuhan energi nasional masih dipenuhi melalui impor.

“Impor tentu dibeli dengan nilai mata uang valuta asing, dalam hal ini dollar AS. Makanya, nilai tukar sangat mempengaruhi harga BBM,” ujar Hamid

Ia menambahkan, tekanan harga tidak hanya berasal dari kurs rupiah, tetapi juga dari kenaikan harga minyak dunia yang saat ini berada di sekitar 105 dollar AS per barel, jauh di atas asumsi APBN 2026 sebesar 70 dollar AS per barel.

Menurut Hamid, kombinasi antara pelemahan rupiah dan tingginya harga minyak global membuat beban impor energi meningkat signifikan. “Berarti untuk impor, beban energi minyak sudah kena dua kali. Pertama dari harga minyak dunia, kemudian dari kurs,” tambahnya.

Ia menilai kondisi tersebut berpotensi mendorong penyesuaian harga BBM nonsubsidi oleh badan usaha, termasuk Pertamina, mengikuti mekanisme pasar.

Selain sektor energi, barang-barang konsumsi yang bergantung pada bahan baku impor juga berpotensi mengalami tekanan harga jika tren pelemahan rupiah berlanjut.

Di sisi lain, ia menilai tingkat pemahaman masyarakat terhadap mekanisme harga energi sekarang sudah semakin baik, sehingga perubahan harga BBM nonsubsidi relatif tidak menimbulkan gejolak. “Makanya sekian tahun tidak pernah ada gejolak kalau harga BBM nonsubsidi berubah
,” tukasnya.

Artikel Terkait