Program MBG Hadir di Desa PIR ADB Dorong Pemerataan Gizi Masyarakat
Kualitas pangan dan gizi merupakan kunci utama dalam menciptakan sumber daya manusia yang unggul.
Harga minyak dunia hari ini merosot tajam setelah militer Amerika Serikat (AS) memberikan bocoran ke Presiden Donald Trump terhadap pergerakan Iran. Situasi tersebut menjadi pemicu anjloknya harga minyak dunia setelah beberapa waktu belakangan berada di harga tertinggi.
Dikutip dari CNBC patokan harga minyak dunia, Brent turun lebih dari 3% dan ditutup pada USD 114,01 per barel, setelah melonjak ke level tertinggi sepanjang masa perang sebesar USD 126 di awal sesi perdagangan. Sedangkan harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun lebih dari 1% dan ditutup pada USD 105,07.
Axios melaporkan bahwa Komando Pusat AS akan mempresentasikan rencana Trump untuk kemungkinan aksi militer terhadap Iran, mengutip dua sumber yang mengetahui masalah tersebut.
Sebelumnya, Trump dilaporkan telah menolak proposal Teheran untuk membuka kembali Selat Hormuz, yang menandakan blokade angkatan laut akan tetap berlaku hingga kesepakatan nuklir yang lebih luas tercapai.
Pergerakan harga minyak terbaru ini terjadi di tengah reli beberapa hari untuk Brent dan WTI, di mana kedua patokan harga minyak tersebut naik sekitar 60% sejak perang yang dipimpin AS dan Israel melawan Iran dimulai pada 28 Februari.
“Pasar minyak telah beralih dari optimisme berlebihan ke realitas gangguan pasokan yang kita lihat di Teluk Persia,” kata Kepala Strategi Komoditas Bank Belanda ING, Warren Patterson.
Goldman Sachs memperkirakan bahwa ekspor melalui jalur sempit Selat Hormuz telah turun hingga hanya 4% dari tingkat normal, sementara negosiasi AS-Iran yang terhenti dan blokade AS yang berkelanjutan memperketat pasokan.
Dengan situasi yang terjadi tersebut, para analis bank tersebut mengatakan bahwa ekspor Iran yang terbatas dan kapasitas penyimpanan yang terbatas dapat memperdalam gangguan pasokan jika blokade terus berlanjut.