Sherly Tjoanda Tetap Rawat Kenangan Benny Laos, Ziarah Jadi Ritual Keluarga Setiap Minggu
Sherly Tjoanda ziarah bersama anak yang sekaligus bertepatan dengan hari ulang tahun mendiang Benny.
Gaya hidup remaja Indonesia masa kini mengalami pergeseran signifikan seiring perkembangan teknologi digital dan media sosial yang begitu masif memengaruhi keseharian mereka. Fenomena ini menjadi perhatian banyak kalangan, mulai dari psikolog, pendidik, hingga orang tua yang berupaya memahami dinamika generasi digital native ini.
Ketergantungan dengan media sosial untuk validasi diri, konsumsi konten singkat seperti video pendek, hingga tren belanja daring impulsif menjadi karakteristik yang paling menonjol di kalangan remaja perkotaan.
Algoritma platform digital yang dirancang untuk terus menarik perhatian pengguna membuat remaja rentan menghabiskan waktu berjam-jam tanpa disadari, sekaligus memicu perbandingan sosial yang dapat berdampak pada kesehatan mental mereka.
Remaja usia 13-19 tahun di wilayah perkotaan dengan akses internet tinggi menjadi kelompok yang paling terpapar tren gaya hidup digital ini, terutama mereka yang aktif menggunakan berbagai platform media sosial secara bersamaan.
Tren ini mulai terlihat semakin mengkhawatirkan sejak adanya pandemic. Ketergantungan remaja pada gawai dan dunia digital meningkat tajam dan cenderung bertahan meski aktivitas tatap muka telah kembali normal sepenuhnya.
Psikolog menyebut paparan berlebihan terhadap media sosial dapat meningkatkan risiko kecemasan, gangguan tidur, hingga menurunnya rasa percaya diri akibat perbandingan dengan kehidupan orang lain yang ditampilkan secara selektif di dunia maya.
Untuk mengatasi permasalahan tersebut, para ahli menekankan pentingnya pendampingan orang tua dalam mengatur waktu penggunaan gawai, serta peran sekolah dalam memberikan edukasi literasi digital agar remaja mampu menggunakan teknologi secara sehat dan bijak, tanpa kehilangan keseimbangan antara dunia maya dan interaksi sosial nyata.