Mulai 1 Agustus 2026, Biaya Lepas Status Warga Negara Indonesia WNI Alami Kenaikan
PP Nomor 30 Tahun 2026 menggantikan Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 2024 tentang Jenis dan Tarif
Fenomena remaja berkumpul untuk unjuk gaya di ruang publik Ibu Kota ternyata bukan hal baru. Pada era 1980 hingga 1990-an, kawasan Blok M, Kebayoran Baru, menjadi pusat "mejeng" atau ajang pamer gaya anak muda Jakarta. Aktivitas yang akrab disebut jalan-jalan sore (JJS) itu diwarnai adu gaya fesyen, atraksi sepeda BMX, skateboard, hingga tarian breakdance di sudut-sudut kawasan tersebut.
Puluhan tahun kemudian, pola serupa kembali muncul dengan wajah baru. Fenomena Citayam Fashion Week yang sempat viral menampilkan remaja dari kawasan penyangga Jakarta seperti Citayam, Bojonggede, dan Depok, yang berkumpul di kawasan Sudirman-Dukuh Atas untuk bergaya di depan kamera ponsel dan konten media sosial. Kemunculan mereka bahkan melahirkan istilah "SCBD" versi plesetan dari Sudirman Central Business District.
Belakangan, pusat gravitasi fenomena ini kembali bergeser. Setelah pamornya meredup di Sudirman, geliat budaya jalanan remaja kini menemukan rumah baru di kawasan Kota Tua, Jakarta Barat.
Di antara bangunan kolonial yang klasik, anak-anak muda tampil mencolok dengan gaya oversized dan warna kontras yang khas. Sebagian dari mereka datang dari wilayah penyangga Jakarta seperti Bogor, Depok, Bekasi, dan Tangerang, mencari ruang bebas untuk bersosialisasi tanpa merasa diusir maupun dibatasi.
Bagi banyak remaja ini, gaya berpakaian yang mencolok bukan sekadar mengikuti tren, melainkan cara untuk terlihat, diakui, dan memiliki tempat di ruang publik yang selama ini terasa eksklusif bagi kalangan tertentu.
Kehadiran mereka turut mengubah wajah kawasan cagar budaya tersebut, menghadirkan warna dan dinamika baru, sekaligus menjadi tantangan bagi pengelola kawasan dalam menjaga ketertiban dan kebersihan lingkungan.
Pola berulang dari Blok M, Dukuh Atas, hingga Kota Tua ini menunjukkan bahwa kebutuhan remaja pinggiran Jakarta akan ruang ekspresi diri tidak pernah benar-benar hilang, hanya berpindah lokasi mengikuti perkembangan zaman dan tata kota Ibu Kota.