Sosialisasi Program MBG di Kota Bogor, DPR RI Dorong Penguatan Gizi untuk Cetak Generasi Unggul
Keberhasilan Program MBG tidak hanya ditentukan dari pelaksanaannya, tetapi juga dari meningkatnya k
Setelah menjalani puasa ramadan selama satu bulan penuh, tubuh perlu menyesuaikan diri lagi khususnya dalam mengkonsumsi makanan. Jangan jadikan momen setelah bulan puasa menjadi balas dendam dengan mengkonsumsi makanan yang jumlahnya besar hal ini juga bisa diperparah dengan kebiasaan makanan yang melimpah selama lebaran.
Dikutip dari detik.com Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam FKUI, Prof Dr dr Ari Fahrial Syam, mengingatkan ke masyarakat mengenai pentingnya puasa syawal yang juga bermanfaat bagi kesehatan. Puasa syawal dianjurkan karena dapat menjadi salah satu langkah untuk menekan mengkonsumsi makanan setelah berpuasa satu bulan.
Transisi ini sangat penting agar lambung tidak kaget. Salah satu metode transisi alami yang sangat dianjurkan adalah dengan menjalankan ibadah puasa Syawal. "Puasa Syawal bisa sebagai bridging (agar tubuh tidak kaget-red)," kata Prof Ari.
Lebih lanjut, dikutip dari laman FKUI, Prof Ari mengatakan bahwa anjuran puasa Syawal dapat menjadi salah satu cara untuk membantu proses transisi tubuh menuju pola makan normal. Dengan berpuasa kembali di bulan Syawal, tubuh secara perlahan mengatur ulang ritme pencernaan yang sempat "pesta" saat hari raya.
Banyak orang berhasil memperbaiki kondisi kesehatan dan menurunkan berat badan selama Ramadan. Namun, Prof Ari mengingatkan bahwa pencapaian tersebut bisa hilang dalam sekejap jika pola makan pasca-Lebaran tidak terkontrol.
"Selama Ramadan, banyak orang berhasil mengendalikan pola makan dan bahkan menurunkan berat badan. Namun, jika tidak menjaga, kondisi tersebut bisa kembali seperti semula hanya dalam waktu singkat," ungkap Prof. Ari.
Sebagai langkah antisipasi, imbangi konsumsi makanan tinggi kalori dengan buah dan sayuran. Serat sangat membantu mengurangi penyerapan gula dan lemak di saluran pencernaan. Bagi penderita penyakit kronis, disiplin minum obat rutin juga tidak boleh kendor di tengah padatnya jadwal silaturahmi.
"Lebaran adalah momen bahagia, namun kesehatan tetap harus menjadi prioritas. Kuncinya adalah menjaga keseimbangan boleh menikmati hidangan, tetapi tetap terkontrol," tutup Prof Ari.